HUKUM ISBAL

Hukum Isbal

Hukum Isbal

Dari Ibnu ‘Umar diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,”

`“Barangsiapa memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat.  Kemudian Abu Bakar bertanya, “Sesungguhnya sebagian dari sisi sarungku melebihi mata kaki, kecuali aku menyingsingkannya.” Rasulullah saw menjawab, “Kamu bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.”[HR. Jama’ah, kecuali Imam Muslim dan Ibnu Majah dan Tirmidiziy tidak menyebutkan penuturan dari Abu Bakar.]

          Dari Ibnu ‘Umar dituturkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda, “

Isbal itu bisa terjadi pada sarung, sarung dan jubah.  Siapa saja yang memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka Allah swt tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat.”[HR. Abu Dawud, al-Nasaa`iy, dan Ibnu Majah] Baca pos ini lebih lanjut

KRITERIA MISKIN YANG BERHAK MENDAPATKAN ZAKAT

Kriteria Penerima Zakat

Kriteria Penerima Zakat

Para ‘ulama berbeda pendapat dalam menetapkan kriteria miskin.   Sebagian ‘ulama menyatakan bahwa miskin itu lebih berat dibandingkan dengan faqir, Ini adalah pendapat dari ‘ulama Baghdad, dan Imam Malik. Ada juga yang menyatakan faqir itu lebih berat dibandingkan miskin.  Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Imam Abu Hanifah, dan Imam Syafi’iy dalam sebuah qaulnya. Namun ada sebagian ‘ulama yang menyamakan istilah ini.  Ini adalah pendapat Ibnu al-Qasim. [lihat Ibnu Rusyd, Bidayat al-Mujtahid, bab Zakat] Namun pendapat yang lebih tepat adalah, faqir itu lebih berat daripada miskin.  Sebab Allah swt telah menyatakan faqir lebih dahulu dibandingkan miskin. Berarti faqir itu lebih berat dibandingkan miskin. [Al-Sa’diy, Taisiir al-Kariim al-Rahmaan fi Tafsiir Kalaam al-Manan, juz III, hal.252]  Oleh karena itu faqir didefinisikan orang yang tidak memiliki apa-apa (untuk memenuhi kebutuhannya),  atau memilikii sesuatu akan tetapi tidak sampai 1/2 dari nishab.  Sedangkan miskin adalah orang yang memiliki harta 1/2 nishab atau lebih akan tetapi tidak sampai sempurna senishab.   Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa yang disebut kaya adalah orang memiliki harta sebanyak senishab.  Ini di dasarkan pada sabda Rasulullah saw kepada Mu’adz ra, “maka kabarkanlah kepada mereka bahwa allah telah mewajibkan zakat atas mereka yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir mereka.” Baca pos ini lebih lanjut

GARANSI, JAMINAN DAN ASURANSI

Garansi, Jaminan dan Asuransi

Garansi, Jaminan dan Asuransi

Garansi, dan jaminan, merupakan bagian aktivitas ekonomi yang perlu mendapatkan legitimasi hukum Islam yang jelas.  Namun, sebelum kita membahas apa hukum garansi, jaminan, dan asuransi, juga untuk menjawab apa hukum orang yang menjual produk-produk yang bergaransi, berjaminan, dan berasuransi, kita harus memahami terlebih dahulu fakta dari ketiganya.  Garansi adalah jaminan atau tanggungan. Ia termasuk salah suatu bentuk layanan purna jual yang diberikan penjual kepada pembeli, dalam bentuk perjanjian tertulis.  Tujuannya untuk menyakinkan pembeli atas mutu barang yang hendak dibelinya, atau sekedar memberikan pelayanan kepada pembeli, agar pembeli tertarik untuk membeli barangnya. Layanan purna jual di sini bisa berujud memperbaiki barang yang dibeli bila barang tersebut mengalami kerusakan pada masa garansi.  Misalnya, garansi 1 tahun atas produk elektronik. Jika barang elektronik tersebut rusak maka ia akan diganti atau mendapat perbaikan sesuai dengan perjanjian (aqad) yang tertulis di dalam lembar garansi.   Pembeli bisa meminta hak garansinya kepada penjual barang tersebut, sesuai dengan hak-haknya yang tertera dalam surat garansi.  Kadang bisa juga dalam bentuk penggantian sebagian atau keseluruhan barang yang telah dibeli. Jika dalam perjanjian garansinya disebutkan akan diperbaiki 50% saja, atau diganti 100 %, maka pembeli barang bergaransi tersebut diperbolehkan meminta haknya kepada penjual barang tersebut.  Kasus semacam ini diperbolehkan, sebagaimana halnya layanan pra dan pasca jual lainnya.  Misalnya, ada seseorang mengatakan, “Bila bapak membeli barang ini, maka barang ini akan saya kirim ke rumah bapak dengan gratis. Dan setelah pembelian, barang yang bapak beli, akan kami bersihkan selama seminggu.”  Kasus ini juga mirip dengan riwayat yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah, “Ada seorang laki-laki membeli budak, lalu budak itu dimanfaatkan.  Akan tetapi laki-laki itu kemudian mengetahui cacat budak tersebut.  Lalu ia mengembalikan budak tersebut kepada penjual.  Lalu penjual itu berkata, “Bagaimana dengan budakku yang telah dimanfaatkannya?  Nabi saw bersabda, “hasil itu (boleh dimiliki), sebab ada tanggungannya.’   Jumhur ‘ulama berpendapat bahwa seseorang boleh mengembalikan barang yang dibelinya jika diketahui cacat atau rusaknya barang tersebut.  Ia juga berhak atas hasil atau manfaat yang dia dapatkan dari barang yang dibelinya tersebut.  Hasil dan manfaat barang itu tidak dikembalikan kepada penjual barang.  Ini adalah pendapat asy-Syafi’I, Imam Malik, serta ‘ulama-‘ulama terkemuka lainnya. [lihat Imam Syaukani, Nail al-Authar, pada bab Hiwalah dan Dlaman] Baca pos ini lebih lanjut

MASHALIH AL-MURSALAH, SADD AL-DZARAAI’, DAN MA`ALAT AL-AF’AL

Mashalih al-Mursalah

Hukum Allah Only

Hukum Allah Only

Mashalihul Mursalah adalah kemashlahatan yang tidak disyari’atkan oleh Syaari’ (Allah) dalam wujud hukum tertentu, yang ditujukan untuk kemashlahatan manusia, dan tidak ada dalil syara’ yang membenarkan ataupun menyalahkan kemashlahatan tersebut.  Dengan kata lain, Mashalihul Mursalah adalah mengambil mashlahat yang bersifat juz’iy berdasarkan  dalil-dalil yang kulliy.[Taqiyyuddin al-Nabhani, al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz III, hal, 369]

Para ‘ulama membagi-bagi kemashlahatan dalam dua bentuk; (1) al-mashlahat al-mu’tabarah, yakni kemashlahatan yang diakui atau ditetapkan berdasarkan nash-nash syara’.  Misalnya; prinsip menjaga jiwa manusia telah diakui berdasarkan sifat-sifat yang terkandung di dalam hukum-hukum syara’, yakni hukuman qishash bagi pembunuhan sengaja. Kemashlahatan, “menjaga jiwa manusia ini”, diakui (mu’tabar) oleh Syaari’, karena sejalan dengan hukum-hukum qishash. (2) al-munasib al-mursal, yakni kemashlahatan yang tidak ditetapkan oleh dalil syara’, namun tidak ada dalil syara’ yang membenarkan atau menyalahkan.  Al-munasibul al-Mursalah disebut juga dengan al-Mashalihul al-Mursalah.  Contoh penggunaan kaedah ini, adalah, pembangunan penjara, model-model pakaian, celana, dan lain-lain yang tidak ditetapkan oleh dalil-dalil yang bersifat khusus, akan tetapi tidak ada pula dalil yang menyalahkan atau membenarkannya.  Baca pos ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.191 pengikut lainnya.